Bayangkan saja, sebelum menjadi orang sukses dan kaya raya ia sempat mengalami masa yang tak mengenakan. Dia pernah dibully dan dihia miskin oleh teman-temannya.
Bahkan, di suatu ketika ia pernah berpikiran untuk mengganti nama yang diberikan orang tuanya. Sebab, nama itu menjadi sasaran bully karena dianggap berbeda dengan yang lain.
Tapi hal itu tak membuat dirinya putus asa. Sebab, berkat cacian tersebut ia termotivasi untuk sukses dan membalikkan cercaan-cercaan temannya.
Kini ia tercatat sebagai orang terkaya ke 38 di Indonesia versi Forbes 2017. Ia bercerita bagaimana semasa muda sering jadi sasaran bully kawan-kawan sebayanya hanya perkara nama yang dianggap aneh.
"Kalau SD saya nggak terlalu merasakan ya. Saya mulai merasakan itu SMP, SMA, itu saya memang merasa mengalami masa masa seperti itu, dibully," katanya saat berbincang dengan detikFinance.
Selama tiga tahun di bangku SMA, Sudhamek sudah kenyang ditertawakan karena namanya.
"Nama saya aneh kan. Nama Sudhamek itu di Indonesia cuma ada satu itu, sehingga setiap hari kalau absensi itu kayaknya saya kayak diadili gitu. Saya sudah tahu sebentar lagi ini begitu nama saya disebut pasti (murid lain) tertawa. Bayangkan itu setiap hari selama 365 hari dikalikan 3 tahun," ujarnya.
Namun, lama-lama dia terbiasa dengan cemoohan kawan-kawannya itu.
"Saya mulai melakukan perlawanan. SMA kelas 2 dan 3 saya mulai terbiasa, artinya saya mulai pelan-pelan menemukan jati diri saya. Jadi waktu masuk SMA masa masa krisis itu sudah lewat," lanjutnya.
Meski lama-lama terbiasa, Sudhamek mengaku pernah ingin mengganti namanya. Tapi akhirnya niat tersebut dia urungkan, sampai akhirnya nama tersebut masih menjadi identitas dirinya hingga kini.
"Pernah, pernah saya sempat mau ganti nama tapi ya akhirnya (tidak)," tambahnya.
Semasa Sekolah Sudhamek pernah begitu terpukul karena dihina pernah kere. Dia dihina oleh kakak dari temannya.
Cerita bermula saat dirinya mengantarkan temannya pulang ke rumahnya. Kata Sudhamek, temannya itu adalah anak dari pemilik pabrik teh di Slawi. Kala itu bisnisnya terbilang mapan dan dia merupakan golongan orang kaya.
"Saya waktu itu masih naik sepeda dia sudah naik (motor) Honda, Honda yang cc-nya gede, dan memang dia kaya ukurannya waktu itu," katanya saat berbincang dengan detikFinance.
Kembali ke masa itu, pria yang pada 2017 terdaftar sebagai orang terkaya ke 38 di Indonesia versi Forbes ini, menjelaskan bagaimana akhirnya dia dihina.
"Waktu saya pergi dengan adiknya karena satu angkatan, pas pulang, kakaknya itu sudah nunggu di depan garasi 'dari mana?', yang nggak enak itu ujungnya, 'nggak usah pergi sama orang kere', wah itu benar benar menyakitkan," ungkapnya.
Merasa terluka dengan ucapan tersebut, yang saat itu masih sangat muda tak bisa menahan amarah hingga akhirnya keduanya bersitegang dan beradu fisik
"Akhirnya kami berantem fisik. Ya sudah sama laki laki lah itu. Dia kelas 2, saya kelas 1 SMA waktu itu, nggak sampai luka, sedikit memar memar," lanjutnya.
Dihina kere, dirinya pun bercerita kepada sang ibu. Tak disangka hal itu membuat ibunya menitikan airmata.
"Itu saya masih ingat, waktu ibu saya tahu nangis ibu saya. Ibu saya kan cinta betul terhadap anak-anaknya. Kalau anaknya disakitin itu lebih sakit daripada dia yang disakitin. Begitu melihat beliau nangis saya nyesal," tambahnya.
Tapi kondisi itu akhirnya membuat dia bertekad untuk membuktikan dirinya bisa menjadi sosok yang lebih baik.
"Saya itu intinya ada suatu pembawaan yang saya merasa beruntung. Saya pada saat mengalami luka batin, emosional secara terus, itu saya otomatis terus saya lawan dengan bentuk kemarahan itu saya ubah jadi energi," lanjutnya.
Semua energi negatif mulai dari kemarahan, kekecewaan, hingga rasa terhina dia ubah menjadi energi positif. Energi positif itu lah yang membuatnya terpacu untuk membuktikan siapa dia sebenarnya.
"Kemarahan, kecewa, rasa terhina, dan sebagainya itu saya ubah jadi energi untuk saya buktikan bahwa saya tidak seperti yang dibayangkan mereka lah, kira kira begitu. Nah di situ lah saya ada sifat kompetitif," jelasnya.
Tak sia-sia, setelah terbukti sukses, teman-temannya pun mengakui kesuksesannya.
"Kalau saya lihat baik itu di WhatsApp grup dengan SMP, SMA, kemudian juga kemarin ada reuni, saya bisa merasakan bagi mereka saya ini diakui sebagai salah satu teman yang berhasil, tapi karena saya tetap bersikap rendah hati terhadap mereka, sehingga mereka menerima saya dengan baik," tambahnya.
ercatat sebagai orang terkaya ke 38 di Indonesia versi Forbes 2017, Sudhamek ternyata punya tiga kunci sukses yang menghantarkannya melejitkan bisnis, terutama pada perusahaannya, GarudaFood. Apa saja?
Secara sederhana dia mengatakan yang membuat bisnis GarudaFood bisa berkembang pesat bergantung pada teknologi dan inovasi, brand value, serta jaringan distribusi.
"Yang pertama adalah adanya technology mastery, penguasaan terhadap teknologi dan inovation. Jadi teknologinya harus dikuasai dan kemudian inovation. Teknologi utamanya kepada quality dan productivity. Inovation pada dasarnya untuk membangun sebuah keunggulan, ada unique value differentiation-nya. Itu pertama," katanya saat berbincang dengan detikFinance.
Kedua, yang tidak kalah penting adalah brand dari bisnis yang dijalani. Nilai dari sebuah brand memiliki peranan yang terbilang penting.
"Kedua adalah brand value, karena ini kita di consumer goods (barang konsumsi), you have to build your brand. Brand itu pertanyaannya adalah how is you brand. Brand value dan itu membangun itu tidak hanya butuh uang banyak, butuh waktu yang panjang, butuh kecerdasan tersendiri. Kreatifitas lah lebih tepatnya," jelasnya.
Yang terakhir adalah mengenai distribusi produk yang kita hasilkan. Semakin baik jaringan distribusi, maka hasilnya akan jauh lebih baik.
"Ketiga adalah distribution network itu. Makanya dulu yang saya benahin pertama di situ, distribution network. Tanpa punya distribution network, anda nggak akan bisa memenangkan persaingan itu," ujarnya.
Lalu ketiga hal itu lah yang menjadi landasan utamanya dalam menentukan rencana-rencana bisnisnya ke depan akan seperti apa.
"Ketiga itu kemudian diturunkan sampai jadi activity plan dan diukur dan itu diukurnya dari waktu ke waktu," tambahnya.

0 comments